cermin

cermin

Cermin itu beragam bentuknya. Beruntung saia sangat jarang untuk menatapnya, hingga tak perlu risau bagaimana tanpak luar. Kekhawatiran yang lebih besar adalah tampak dalam, yang membutuhkan teknologi gelombang agar mampu melihatnya.

Terkadang ingin menyajikan cermin tampak dalam pada berbagai persentuhan. Agar tak hanya menatap cermin tampak luar, hingga menyibukkan pada bagaimana menaikkan cara kicau.

Ketika ingin sesuatu yang baik, lalu hanya menggumam, dan kadang mengumpat di balik jari. Lalu ketika ada ruang yang disajikan, malah mengelu, terdiam, dan ketika keluar dari ruang itu kembali menggumam dan mengelu.

Wajah dunia pengubahan pun serupa. Tak perlu bicara pendidik, karena semakin sedikit yang ingin memahamkan makna pendidikan. Pengajar pun cenderung membaca cepat dan dari satu titik semata. Melupakan cara pandang holistik, komprehensif, dan tak semata dua sisi keping itu. Apalagi bila hanya bersumberkan satu arah.

Ketika metoda tekan dan bagikan terjadi, makapun semakin kerap abai untuk menghitung lompatan yang terjadi pasca berbagi. Dunia sentuhan ini memang semakin memerlukan sentuhan. Kecepatan gelombang data yang semakin melaju secara eksponensial tak akan menunggu keinginan untuk tetap pada metodologi yang sebaiknya.

Narsism dan perlombaan untuk mewajahkan yang seolah memperbaiki retak pada cermin, masih akan selalu menjadi pilihan. Hanya butuh sedikit sentuhan, bahkan usapan, agar daya tekan bisa memberikan impak yang berbeda. Dan menjadi penting untuk berungkap di depan, bukan selalu menggumam. Dan jauh lebih baik untuk memimpin menuju arah yang diharapkan.

*Basambang Memburai Kota*

1 comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: