Digital Stone Age

Bumi berputar. Matahari berputar. Segala berputar. Entah pada porosnya, entah pada orbitnya. Tak ada yang tetap berada pada satu titik. Akan ada perjalanan pada titik kembalinya. “Kita sedang kembali ke jaman batu“, ujar beberapa orang hari ini.

Trend-trend dibangun atas kesadaran yang menggerakkan alam ketidaksadaran. Ketika kemudian sebuah tampilan menjadi sebuah trend, lalu sebagian besar berlomba untuk menjadi sama. Ketika batu-batu alam mulai ramai digunakan, lalu kemudian bertumbuhlah pengumpul, pengolah, pengguna, hingga penafsir makna batu. Pun ketika kopi dari feses satwa dianggap enak, lalu alam bawah sadar mengikutinya sebagai perintah untuk mengatakannya enak.

Kopi Luwak adalah bagian dari sebuah branding, yang tak sepenuhnya menghadirkan kenikmatan sebenarnya. Hanya sebuah pemasaran yang kemudian menjadikannya nilainya meningkat tajam. Pun ketika ada proses penghilangan kesejahteraan satwa dalam menghasilkannya, tidak menjadi sebuah sensitifitas tersendiri bagi peminumnya.

Menjadi follower merupakan hal yang memang selalu terjadi pada setiap kita. Desain isi kepala, yang sejak pendidikan usia dini hingga pendidikan tinggi, telah diolah agar hanya menjadi pengikut. Kreativitas telah dibelenggu dengan sangat manis, dengan beragam metodologi pembelajaran, dan tentunya segumpal peraturan-peraturan yang mengada-ada. Pun menjadi pemimpin, menjadi hal yang tabu, sehingga tak terlalu banyak yang bersedia menjadinya, apalagi bila kemudian seorang leader hanya menjadi yang dikorbankan.

Ini sudah jaman digital. Lalu kemudian muncul wacana agar barang-barang digital mulai kembali dijauhkan dari anak-anak. Hanya karena penyalahgunaan sebagian kecil perangkat, lalu kemudian dimasifkan dan dibangun sebuah peraturan. Gegabahnya pelayan publik dalam merespon situasi, merupakan sebuah kegagapan kolektif atas teknologi. Padahal, tak pernah jua ada pendidikan yang benar untuk pemanfaatan teknologi bagi generasi Y, apalagi untuk generasi Z sendiri.

Kita sedang didorong untuk kembali ke jaman batu. Mempercayai lagi nilai-nilai yang tak berdasarkan penemuan yang melalui proses yang menemukan. Hanya sekadar bincang-bincang, dan argumentasi katanya, lalu kemudian menjadi sebuah kebenaran. Jaman digital pun, masih menggunakan metodologi yang sama. Keriuhan media sosial, serta merta menjadi bagian dari pemberitaan, yang lalu menjadi kebenaran.

Segala kepalsuan lalu kemudian bermunculan. Dan segalanya menjadi benar dan dibenarkan. Media massa yang mengejar keuntungan semata, dan akademisi yang menjadi pengamat semata, berkolaborasi dengan politikus dan selebritis yang tak ada sekat pembedanya, lalu pemerintah yang sibuk mematut diri. Dan kemudian, kembalilah proses tanpa pengetahuan yang terus berjalan.

Pagi matahari pagi. Para pembelajar yang telah usai membaca seonggok buku pagi ini. Para aktivis yang masih melingkar kedinginan dan masih bermimpi sebuah perubahan. Para pekerja informal yang telah bertarung dengan keriuhan celoteh burung pagi. Mari kita kembali pada jaman batu. Ketika jamban menjadi media sosial yang menghibur. Tanpa perlu takut kehilangan sinyal, apalagi kehabisan energi untuk menggerakkan.

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: