#hestek

#hestek atau #tagar ataupun kata yang berawal dari #hashtag, yang merupakan sebuah penanda bagi topik tertentu, dimulai dari keberadaannya di twitter, sebagai penanda bagi pesan dengan topik tertentu. Twitter, yang kemudian diikuti dengan beragam media sosial lainnya, mulai menggunakan hestek sebagai sebuah model bisnis di dalamnya.

Yang menarik adalah bahwa bisnis topik populer tidaklah dikuasai tunggal oleh Twitter. Topik populer juga dapat dibangkitkan oleh para pemilik akun popular (selebtwit), yang memicu terjadinya topik yang menjadi trend (trending topic). Kelompok yang kemudian disebut sebagai buzzer ataupun pembangkit dengungan ini, kemudian digunakan juga oleh penghobi twitland, utamanya yang membutuhkan ketenaran di twitland.

Kalau mau menggunakan hestek, harusnya jangan SMD atau SMR, pak. Karena Google nggak akan mencatakannya. Google lebih suka bila dituliskan Samarinda,” tanya seorang pelajar SMK kepada Kepala Dinas urusan Komunikasi dan Informasi kota.

#Samarinda

#Samarinda

Menarik memang. Dunia Twitter yang masih sedikit hidup di kota-kota besar, utamanya Jakarta, masih menjadi rujukan beragam hal. Dengan 140 karakternya, walaupun bisa diperpanjang, Twitter masih dilihat sebagai hal yang mudah untuk meneruskan pesan. Berbeda dengan Facebook, yang semakin merekatkan jangkauan pada personalisasi pengguna, maka twitter tetap menjadi media sosial terbuka. Walaupun kemudian kehadiran media sosial berbasis gambar, video, hingga livevideo, menjadi hal yang mulai tumbuh, pesan singkat masih tetap dapat hidup diantaranya.

Kehidupan buzzer memang sangat nyaman di media sosial ini. Kemudahan untuk beternak akun pun, dapat membantu peningkatan jumlah cuitan dengan topik sejenis. Akhirnya kemudian, bidang hubungan dengan masyarakat, perwajahan korporasi, hingga promosi produk, berupaya memanfaatkan para pendengung untuk melakukan penjangkauan.

Pun sebenarnya, konvergensi terjadi pada keriuhan twitland. Para kulitagar yang juga bekerja sebagai kuli-flashdisk, dengan hanya menatap layar di depan papan ketik, melakukan proses menulis ulang peristiwa di twitland pada medianya, yang kemudian kembali lagi hadir di twitland. Gelombang dengungan pun menjadi tsunami dengungan, yang akhirnya memberikan keuntungan bagi pembagi hestek.

Dunia twitland hanyalah sebuah dunia kecil. Pengguna yang tak lebih dari dua pertiga dari Facebook, dan semakin mengecil, hanya bermanfaat bagi para pemain di kota besar. Warga di luarnya, terpapar melalui berita online dan terkadang juga melalui media cetak, yang menuliskan ulang keriuhan media sosial. Akhirnya kembali, kabar yang ada pada wilayah di luar pertarungan ekonomi, hanya akan menikmati keriuhannya, tanpa pernah didengarkan.

#hestek, #tagar, #hashtag atau apapun itu, hanyalah sebuah keriuhan sementara. Memori pendek para netizen, dan memori panjang para mesin pencari, telah menjadi sebuah atmosfer dalam pulau-pulau informasi. Teruslah menikmatinya, sesuai dengan kebermanfaatan yang diraih. Tak perlu berada dalam pusaran keriuhan, ciptakanlah keriuhan sendiri. #huray.

Leave a Reply

%d bloggers like this: