#MejaSegalaAda

Kami bersepakat menamakannya Meja Segala Ada. Entah sejak kapan. Namun pastinya, apa yang dibutuhkan selalu saja ada di meja ini. Kalau lagi tetiba terlapar, tak berapa lama akan tersaji kudapan hingga sarapan dan makan siang. Beragam minuman dari yang paling dimgin sampai yang paling panas pun pernah tersaji di meja ini.

Meja ini memang menyediakan segala. Bukan kantong doraemon. Meja ini hanya menyediakan apa yang akan dipikirkan. Dari yang belum sekolah hingga yang sudah profesor pernah bercengkerama di meja ini. Dari sebuah gagasan, menjadi proposal, hingga diterima dan ditolak pun pernah dibicarakan di meja ini. Bahkan proposal yang hanya dijadikan pembanding pun juga dari meja ini.

Sudahnya laporan, mulai dari yang tak terlaporkan, hingga yang berhasil lolos pada pengakuan laporan itu. Mulai tugas sekolah, tugas kuliah, hingga skripsi, tesis dan disertasi, menghampirinya. Pun tesis yang tak pernah diujikan pun sempat teronggok lama di atasnya. Dan meja ini, mampu mengubah tesis yang tak terstruktur, ataupun lama tak disentuh, menjadi toga dan selembar ijasah.

Ragam peneliti, mulai dari asisten peneliti, hingga peneliti yang tak jelas, kerap berbincang dihadapannya. Pun pada peneliti tak berbiaya hingga yang berbayar tak terhitung digit. Entah dimana saja karya itu.

Meja ini juga selalu sabar mendengarkan toa itu, mulai dari celoteh lembut, hingga toa yang memperdengarkan kritik, pun hingga diperdengarkan di meja hijau. Baik meja hijau tanpa bola, hingga meja hijau dengan beragam bolanya.

Beberapa kebijakan penting provinsi dan kota ini, juga lahir dari meja ini. Hanya saja, tak pernah ditorehkan pertanda bahwa meja ini menggoreskan pikirannya. Maka ketika ada yang bertanya, darimana kebijakan itu berasal, bisa jadi sebenarnya cerita itu tersimpan di meja ini.

Beberapa yang sekarang menjadi pekerja di lembaga non profit, lembaga internasional, pegawai pusat, hingga pegawai pemerintah, serta para guru dan dosen, lahir dari interaksi di meja ini. Meja ini jadi tempat belajar yang tak nyaman, namun tetap menuju zona nyaman.

Kami belajar dan berkarya dari meja ini. Dengan pendekatan ngawurologi, meja ini menorehkan banyak hal. Ketidakteraturan barang-barang di atasnya, telah menyediakan segalanya. Kalaupun hanya sekadar jarum, hingga iMac pun ada. Teknologi terbaru yang belum ada di kota ini pun lebih dulu hadir di atasnya.

Hari ini, meja ini terlalu lelah untuk mendengarkan kicau burung. Ia akan berpindah ke tempatnya yang baru. Semoga masih cukup panjang umur pakainya. Dan tetap menjadi ruang untuk berpengetahuan dan menoreh karya. Mungkin saja, akan ada lagi generasi kemudian yang belajar di meja ini. Kembali menjadi penyedia pekerja berkualitas, bagi banyak hal. Dan ia tak berganti menjadi meja prasmanan semata.

Leave a Reply

%d bloggers like this: