Diferensiasi

Membedakan

PEMBEDAAN. Belum bertemu dengan padanan kata Diferensiasi. Bukuberjudul “Diferensiasi, Memahami Pelajar untuk Belajar Bermakna dan Menyenangkan” yang ditulis oleh Najelaa Shihab dan Komunitas Guru Belajar ini cukup baik untuk mencoba memahami mengapa pembedaan proses pembelajaran itu harus dilakukan oleh para pembelajar. Juga bercerita bagaimana sebenarnya karakteristik mereka yang belajar. Ada sebuah keharusan untuk mengenal karakteristik orang per orang, agar kemudian dapat meramu pendekatan dan metodologi yang tepat dalam membelajar.

Walau buku ini tidak berisikan jawaban bagaimana itu bisa dilakukan, buku ini cukup bagi membuka cakra agar para pembelajar tidak lagi melahirkan robot intelektual. Penting untuk melahirkan manusia pembelajar yang cerdas. Manusia, bukan robot. Cara mengelola pendidikan dengan pendekatan kekuasaan absolut, hanya akan melahirkan pembelajar pintar, namun memendamkan amarah yang berpotensi pada peniadaan. Berbeda memaknakan displin dengan kekerasan, dimana kekerasan tak sekedar fisik, namun pada ranah psikologis. Percuma ajaran keyakinan dikuatkan, tanpa pernah meletakkan pondasi filosofis dari keyakinan itu. Hasilnya adalah robot-robot yang seolah bersujud, namun menyiapkan sekian banyak skenario lompatan.

Diferensiasi mengajarkan tentang kebhinekaan yang berlangsung dan terus akan ada. Diferensiasi membelajarkan tentang proses belajar yang tak dapat dihentikan dari para pembelajar. Diferensiasi memaksakan pembelajar membuka kanal otak dan ruhnya agar mampu mempertemukan inovasi dan invensi kekinian. Diferensiasi meletakkan kembali bahwa bumi terus bergerak dalam beragam arahnya, sehingga tak ada pengetahuan statis yang hanya tertuang di dalam kitab-kitab yang semakin berdebu.

Temukan kembali makna mendidik. Selamilah makna pendidikan. Belajar lagi pada politik pendidikan yang melahirkan generasi yang selalu berada di belakang, bersorak, dan seolah mendorong mobil yang mogok. Begitulah ketika hanya kalimat “Tut wuri handayani” yang diletakkan sebagai semboyan pendidikan. Lalu dimanakah “Ing madya mangun karso“? Kemana perginya “Ing ngarso sung tulodo“? Satu pilihan bagi peradaban kemudian, “sudo reboot -f“.

Leave a Reply

%d bloggers like this: