Menumpang Gerakan

Satu hal yang patut dimaklumi, ketika gerakan menumpang semakin masif. Karena menjadi perintis merupakan bagian yang paling tersakitkan. Apalagi pada hutan sekunder. Duri-duri terong hutan bisa hadirkan meriang. Pun pulau-pulau semak memberikan hambatan pada langkah.

Bila jalan sudah usai dirintis, maka pun mulai menjadi nyaman dalam menikmatkan perjalanan. Lalu pun dapat menyanyikan “kiri-kanan kulihat saja, banyak pohon …”. Entah pohon apa yang tersisa.

Menunpang juga sangat murah. Tak perlu bermodalkan banyak, hanya butuh niat, yang pastinya masih mahal, agar mampu menggerakkan batang tubuh yang masih hidup.

Sementara, para perintis menanggung beban yang pastinya lebih berat. Menjadi beda, diomongkan, dibullykan, hingga digilakan. Hanya segelintir perintis yang mampu bertahan, yang ketika bulan keenam sudah memperoleh dukungan. Pun pada perintis seolah, yang masih menunggu gaji bulan ini yang belum ditransferkan.

Ibukota menjadi sebuah magnet yang sangat kuat dalam menarik gerakan menumpang. Apa yang terjadi di Jakarta, sebagai ibukota negara, dengan cepat diperbincangkan hingga di pelosok. Apa yang terjadi di Samarinda, sebagai ibukota provinsi, sangat cepat mengalir ke hulu sungai. Dan selalu, yang ada di hulu sungai ataupun di perbukitan, menjadi senyap di ibukota manapun.

Maka pun, model penyiaran gerakan haruslah berbalik arus. Agar kemudian ada penumpang-penumpang yang tak gelap. Kabarkanlah setiap jengkal kejadian di sudut nusantara, bukan mengabarkan ibukota pada sudut kampung.

Selalu ada yang menumpang, dan penumpang itu dibutuhkan dalam gerakan. Bahkan terkadang penumpang jauh lebih jago mengarahkan kendaraan yang ditumpanginya, dibandingkan mereka yang merakit kendaraan tersebut.

Nikmati sajalah. Karena menumpang penumpang agar bertumpangan akan memberikan auta berbeda dalam perjalanan. Hanya saja, selalu penumpang yang menjadi lebih sejahtera dibandingkan yang mendorongkan kendaraan itu. Relakan saja. Karena selalu ada waktu yang berhenti di persimpangan, yang kemudian mempertontonkan iba agar dapat menumpang pada kendaraan berbeda.

Perintis tak perlu menangis apalagi melenguh. Sudah jalannya untuk ditiadakan. Selalu ada jalan berbeda yang memberikan arah dengan lebih tepat, dalam menuju perhentian pertama.

Leave a Reply

%d bloggers like this: