Menyuruk Kota Cerdas

Sulitlah dalam dua puluh tahun lagi, smart city akan terwujud,” begitu ujarnya. Mewujudkan kota cerdas, bukanlah semata membuat sebuah aplikasi, lalu selesai. Kota cerdas dibangun atas pilar-pilarnya, yang kemudian memanfaatkan teknologi informasi sebagai pemercepat dan penguatnya. Jadi, teknologi informasi adalah kendaraan menuju, bukan merupakan tujuan akhir kota cerdas.

Di tengah situasi defisit anggaran negara, kreativitas aparatur sipil negara sangat diuji. Kalau pun hanya ingin menerima imbal jasa setiap bulan, maka tak perlu ada yang dikerjakan. Hingga kemudian, kecuali pada pelayanan administrasi bagi publik, maka program pembangunan tak akan ada. Setidaknya untuk tahun ini. Dan bukan tidak mnngkin untuk satu-dua tahun mendatang.

Memberikan perspektif bagi pelayan publik menjadi penting. Mendiskusikan pilihan-pilihan tindakan yang dapat diambil, dengan memperluas perkawanan, hingga kemudian membangun sebuah hal yang bermanfaat langsung, tanpa harus bergantung pada anggaran negara. Sebenarnya pun, begitu banyak tangan terlihat yang sedang berada di sekitar. Hanya soal melihat dan menggenggamnya saja. Lalu kemudian dengan sederhana dapat mewujudkan dampak.

Dalam teknologi informasi, sebagai sebuah jembatan ataupun kendaraan, maka banyak hal yang sangat mungkin dilakukan. Membangun transparansi dan akuntabilitas melalui #BukaData hingga mengelola Big Data. Pun untuk membangun jembatan pemercepat interaksi warga dengan pemerintah. Apalagi Satu Peta Satu Data Satu Manajemen telah berulang menjadi jargon. Dan kemudian dilupakan seketika.

Kota Cerdas sangat mungkin diwujudkan, dengan sumber daya keuangan terbatas. Ini hanya soal cara. Kewenangan yang dimiliki dapat menjadi katalis positif di dalam menyambungkan beragam gagasan dan keahlian. Ini hanya bersandar pada kopi di dalam gelas. Dan keinginan untuk membuka diri dan berbagi gagasan. Setidaknya, kegiatan mengobrol menjadi penting. Tak perlu terlalu sering disibukkan dengan timesheet ataupun laporan. Cukup duduk dan berbincanglah. Begitu mudahnya menyuruk Samarinda menjadi lebih cerdas. Gitu sih.

Leave a Reply

%d bloggers like this: