Nak

Nak, tanah yang kau jejak itu dulunya hutan. Merah merekah mengering tak lagi membatu kini. Tak perlu ada tanya. Kerakusan yang masif telah memusnahkan keindahan lebih cepat dari waktunya. Belum sempat pengetahuan dan teknologi yang tak pernah berpihak itu menghadirkan jawaban atas tanyamu itu. Oksigen semakin mengerutkan wujudnya dalam aliran angin yang tak merimakan hembusannya. Ozon sudah enggan melindungkan bumi dari gelombang matahari yang selalu menjadi jingga, seperti namamu.

Nak, tulang ikan haruan dan biawan itu baru saja menjadi fosil. Rawa dan gambut yang kerap mencuci racun yang dialirkan pada sungai-sungai tercemar itu telah lama mengering. Kumpai berulang dibakar agar ada jalur untuk menyetrum ikan-ikan yang bermain di selanya. Kahoi, kadamba hingga rambai pun harus bertumbangan satu per satu secara perlahan. Dekomposisi gambut tak berlangsung lama. Methane pun mengangkasa. Semakin menyelimuti bumi yang semakin menghangat.

Nak, lihatlah kolam-kolam biru hijau yang indah itu. Seolah lautan telah berpindah ke daratan. Dulu banyak anak-anak seusiamu yang bermain di tepinya. Beberapa mereka berenang dan bermain-main pada airnya. Mereka lupa, itu adalah kubangan yang terbentuk setelah batubaranya digali untuk menerangi kota. Satu per satu mereka meregang nyawa. Logam berat yang bercampur di dalamnya menjadikan perenang tangguh tak lagi mampu menggerakkan tangan dan kakinya. Kolam-kolam ini tak hanya satu. Ratusan kolam-kolam serupa semakin mendekat pada ruang belajar dan bermainmu. Tak hanya pepohonan dan satwa yang dikuburkannya. Generasimu pun tenggelam di dasarnya.

Nak, tengoklah batu akik itu. Hitam legam mengkilap. Itu bukan batu. Ulin yang telah menjadi fosil telah menjadi sebuah perhiasan yang menghias jari. Itu hanyalah bongkah ulin yang ditinggalkan karena para penebang itu tak sanggup membawanya. Hamparan ulin di antara dipterocarpa yang menjulang ke langit dalam sekejap berganti pada hamparan tanah memerah ini. Rumah, jembatan, hingga tissue toilet menyerap selulosa dari hutan tropis dataran rendah. Pun minyak goreng, sabun hingga kosmetik yang mempercantik para lelaki dan perempuan pendandan itu, menjadikan satwa harus bermigrasi sebab hutannya telah berganti menjadi hamparan karpet sawit.

Nak, gedung-gedung tinggi yang berupaya mengejar langit itupun berawal dari debu kapur gamping di hulu sungai ini. Bentang karst yang dulunya menjadi awal peradaban kehidupan manusia, diruntuhkan agar kemudian kota semakin menjulang. Batuan kapur menjadi semen. Lalu kemudian air tawar yang telah disaringnya, yang dulu selalu mengaliri anak-anak sungai, untuk membasahkan sawah dan ladang, menjadi mengering. Maka berlanjutlah pangan-pangan industrial yang menebarkan herbisida, insektisida, hingga benih-benih yang dimodifikasi genetiknya. Agar manusia tetap mampu mengenyangkan lambungnya.

Nak, ingatlah bila dulu pernah ada pesut yang bemain di aliran Kedang Kepala hingga Mahakam. Bekantan yang berkerumun menyaksikan buaya-buaya berpesta. Gajah yang sedang asik mengemut umbut dan kambium. Enggang terbang rendah, yang sedang  membawa pesan leluhur. Badak yang merendam di dalam sepan. Babi hutan yang selalu berpindah dan berenang mencari pohon berbuah. Dan ratusan sekawanan satwa yang selalu meramaikan hutan dan perkampungan.

Nak, inilah bumi yang telah kau dan generasimu pesan dan titipkan pada kami dulu. Keindahan terbaik ini yang mampu kami berikan. Yakinlah, selalu ada kebahagiaan di dalamnya. Tanpa oksigen, air bersih dan pangan yang menyehatkan. Hanya dengan racun generasimu akan terus bertumbuh. Sebagaimana benih-benih dulu ditebar dan berupaya untuk mencengkeramkan akarnya di sela bebatuan agar mampu meraih air yang melepasdahagakan, hingga kemudian memberikan karbohidrat, protein dan vitamin pada raga. Seperti satwa-satwa yang dilahirkan dan ditetaskan dari generasi mereka yang masih bertahan dan mampu menghindar dari perburuan yang melelahkan.

Nak, inilah bumi terbaik yang kami berikan pada generasimu. Teknologi yang kabarnya mampu memberikan jawaban kehidupan lebih baik, tak akan mampu menggantikan denyut kehidupan yang menyenangkan. Oksigen kaleng tak akan mampu dibayarkan oleh setiap generasimu. Air kemasan tak akan mampu terbelikan oleh setiap kawanmu. Pakaian dan rumah yang melindungi dari teriknya matahari yang menyeruak diantara lapisan atmosfer itu, tak akan mampu dimiliki oleh setiapmu.

Nak, bukalah kembali catatan sejarah peradaban. Bagaimana dulu generasi awal peradaban membangun keyakinan dan kepercayaannya bahwa hutan adalah ibu dari kehidupan. Hamparan kerangas dengan kantung semar dan tetumbuhan tak tinggi itu selalu dirawat, tanpa pernah tahu lapisan batuan mineral keras dibawahnya sudah pasti tak akan mampu ditembus akar pepohonan, hingga tak boleh ditebang. Bunga-bunga keruing, bangkirai dan meranti yang berterbangan pada musimnya, tertancap pada serasah yang basah, hingga kemudian tumbuh menggantikan pepohonan yang menua. Hanya rotan, madu, buah, umbi dan tetumbuhan obat yang dimanfaatkan mereka, agar tetap memiliki energi untuk berjalan.

Nak, hutan itu rumah. Hutan itu ladang bermain. Hutan itu sekolah. Hutan itu pusat perbelanjaan yang sangat berkelas. Hutan itu pabrik kehidupan. Dan hutan itu telah dimusnahkan generasiku. Tak perlu memberi maaf pada kami, karena kami telah gagal untuk menjaga amanah yang kalian berikan. Dan selalulah hadirkan hutan dalam mimpimu. Mungkin satu waktu, peradaban manusia akan kembali pada titik bermula.

 

::dongeng sebelum tidur untuk jingga

:28 Juni 2016_11.11

Leave a Reply

%d bloggers like this: