#SampahSmr

Dalam tiga hari ke depan, akankah #Samarinda menjadi kota #Sampah? ketika berbicara 3R itu adalah urusan mengurangi (Reduce) sebagai hal pertama, lalu apakah ada kebijakan pengurangannya? Lalu gunakan ulang (Reuse) yang apakah angkanya signifikan? Kalau keduanya gagal, barulah olah ulang (Recycle) yang bekerja.

Ketika volume Sampah meningkat dan pekerja pengumpul sampah tidak ingin bekerja karena haknya sebagai pekerja belum dipenuhi oleh Pemerintah Kota, maka hasilnya adalah …..

Apa kabar pemimpin kota? Masih nyenyak tidur kalian? Lalu kemudian berujar “ini akibat defisit APBD”, sebagai jalan pelarian dari cerita dan kata yang pernah kalian ungkapkan pada warga kota ini saat meraih suaranya.

Mari kembali tidur dan bermimpi … mungkin itu lebih baik bagi kota ini

Tentang Pelayan Kota itu

#errorsystem itulah potret ketika Pemimpin kota melakukan pembersihan sampah di sisi kota. Bisa jadi benar tak ada pencitraan, bisa jadi benar menjadi jawaban atas pertanyaan “apa yang telah kau buat untuk kotamu”. namun, ini sebuah negara dengan sistem pemerintahan yang tidak serta merta dipisahkan dengan soal bagaimana relasi mulai dikeroposkan oleh sistem.

Ketika kemudian pemimpin satuan wilayah terkecil telah diberi honor, pun terhadap pengurus rumah pelayanan keyakinan. Lalu ketika sistem kultur telah tecerabut, lalu bertanya, “apa yang kau buat untuk negerimu?”

Sederhana saja saia menjawab ini, “tak ada”. Ya, tak ada, karena memang negeri ini tak ingin ada yang diperbuat oleh warganya. Ketika pengurus negeri merencanakan sebuah wilayah, adakah mereka bertanya? Ketika mereka menjalankan program yang mereka susun, adalah mereka menyapa? Ketika mengevaluasi hasil program mereka, adakah mereka berkabar? Lalu mengapa ketika ada bencana dan kegagalan sistem yang mereka jalankan, lalu kemudian bertanya dan berupaya menyapa warga “hai warga, apa yang kalian perbuat untuk kota ini?”

Negeri ini memang sakit, dan sebagian besar pemimpin dan pelayan publikny sedang sakit. pun anggota parlemennya sedang mengalami syndrom pemiskinan anggaran. Maka ketika warga berbicara dan mengumpat, lalu pintu penjara dibukakan. “Ah, itukan karena saya mau tau aja siapa yang mengumpat”.

Kalau kemudian arah bergerak tidak harmoni menuju mimpi, maka benar menggarami lautan ataupun menguaskan cat di langit yang sedang dilakukan. Maka bukan hanya sekadar bergerak tanpa mimpi. Bukan sekedar berbagi tanpa kerelaan. Bukan sekedar narsis telah berbuat.

Ada sebingkai cermin kecil di sudut kota, yang tak pernah menguraikan kata palsu. Bertanyalah padanya apakah langkah telah menuju mimpi yang sebenarnya. Apakah mimpi itu benar bagi semua. Dan apakah semua itu telah bermimpi yang serupa.

Kota dalam rinjing, dipenuhi dengan beragam ramuan, yang akhirnya menyajikan hidangan yang memuakkan. Selalu ada cara berbeda untuk menyajikan menu penutup yang membahagiakan. Bergerak dalam senyap, sebagaimana tikus-tikus itu perlahan meregang nyawa, setelah menyantap makan malamnya.

Namun semoga narsisme perbuatan kebaikan kalian bagi kota ini akan menyadarkan mereka yang telah dimandatkan untuk mengurus kota. Bila tidak, abaikanlah kota ini, bangunlah kota masa depan. #huray

Leave a Reply

%d bloggers like this: