Seberapa Cerdas Sebuah Kota dapat Menjadi Smart City?

Smart City (Kota Cerdas) telah menjadi wacana dari berbagai kota di Indonesia. Beragam kota pun berlomba-lomba untuk mendeklarasikan sebagai sebuah kota yang cerdas. ekonomi (smart economy), cerdas mobilitas (smart mobility), cerdas masyarakat (smart people), cerdas berkehidupan (smart living), dan cerdas tata kelola pemerintahan (smart governance). Beragam provider teknologi, termasuk teknologi informasi, pun berlomba menyediakan layanannya untuk mencapai peningkatan kecerdasan sebuah kota.

Sebuah mimpi yang menyenangkan, bilamana kemudian sebuah kota menjadi sangat layak huni, termasuk bagi anak. Jadi bukan semata terpenuhinya teknologi informasi di dalam sebuah kota, ataupun tersedianya gedung-gedung berteknologi dari sebuah kota. Namun lebih jauh dari itu, Smart City dapat menghadirkan sebuah kota yang lebih bernyawa, bagi generasi mendatang yang hidup di dalam kota itu. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pun telah menguraikan dengan lugas indikator bagi kota atuapun kabupaten agar lebih layak bagi anak, melalui Peraturan Menteri Negara PPPA No. 12 tahun 2011. Sementara teknologi dan teknologi informasi, hanyalah sebuah perantara bagi pencapaian hal tersebut, bukan menjadi utama.

Pemerintah yang Cerdas

Tantangan terbesar dalam pengembangan Kota Cerdas adalah soal perilaku yang kemudian telah menjadi budaya. Inti pusaran pengembangan kota cerdas berada pada tata kelola pemerintahan. Dalam hal ini, perilaku dan budaya pelayanan yang dimiliki oleh pemerintah harus berani untuk digerakkan menuju pemenuhan pelayanan bagi warga.

Proses ini dapat dimulai dengan hal yang sangat sederhana. Proses umpan-balik dari warga yang dikelola dan ditindaklanjuti dengan tepat, merupakan langkah awal untuk menuju sebuah kota menjadi lebih cerdas. Mendengar, bukanlah hal yang terlalu sulit. Namun menjadikan hal yang didengar sebagai sebuah hal yang dapat memperkuat dan memberikan jaminan terhadap kebutuhan dasar dan lanjutan bagi warga kota, merupakan hal yang sangat penting untuk diwujudkan.

Teknologi informasi dapat berperan dengan tepat, bilamana budaya telah terbangun. Pengembangan Executive Information System (EIS) dan Decision Support System (DSS) bagi Pemerintah merupakan tahapan lanjutan setelah terbangunnya budaya mendengar dari Pemerintah. EIS dan DSS akan sangat berguna bagi Pemerintah dan Parlemen, agar proses respon dan pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan lebih cepat.

Keluar dari Ekonomi Ekstraktif

Sebuah Kota Cerdas juga harus mulai berani untuk keluar dari zona nyaman ekonomi ekstraktif. Menopangkan pendapatan kota dari proses ekstraksi kekayaan alam, akan semakin mempercepat kolapsnya sebuah kota. Kita pasti sudah kerap melihat wilayah-wilayah yang ditinggalkan, setelah usai diperas tuntas kekayaan alamnya. Seorang pemimpin kota, harus mulai berani untuk meninggalkannya, dan beralih pada ekonomi yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi hijau.

Proses menuju hal tersebut diawali dengan mengubah visi, misi dan rencana strategis pembangunan kota. Melakukan penghitungan ulang kekayaan alam, mengukur investasi sumberdaya manusia yang harus dilakukan, hingga mengundang investasi hijau ke kota, menjadi agenda yang perlu dilakukan segera. Lalu melangkah pada penyiapan infrastruktur pendukung, terutama terkait energi, transportasi, dan teknologi informasi, secara bertahap.

Ruang bagi Warga Cerdas

Kota yang cerdas akan memberikan ruang bagi kecerdasan warganya. Ada banyak kecerdasan warga di setiap kota yang tidak menemukan ruang yang tepat untuk mengekspresikannya. Pemerintah, serta industri, harus memberikan ruang yang tepat bagi proses ekspresi kecerdasan tersebut. Lembaga pendidikan, sekolah hingga perguruan tinggi, pun harus mulai berani untuk memfasilitasi kecerdasan yang dimiliki oleh generasi masa depan kota.

Sebuah kecerdasan bukanlah semata berhasil lulus ujian nasional dengan nilai yang memadai. Namun lebih jauh dari itu, beragam bentuk kecerdasan, yang diurai dalam ragam kreatifitas yang dihasilkan oleh warga, butuh diberikan ruang, agar kemudian warga semakin menyakini bahwa kotanya telah memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi.

Tidak sedikit warga sebuah kota yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang luar biasa, dan kemudian mengambil pilihan untuk mengekpresikan dan menumpahkannya di kota lain. Kegagalan pelayan publik untuk memfasilitasi pengembangan lebih lanjut kecerdasan-kecerdasan yang dimiliki oleh warga kota, dapat menjadi energi negatif bagi berkembangnya sebuah kota.

Tantangan Menuju Kota Cerdas: Kepemimpinan

Sebagian besar memiliki pandangan bahwa Kota Cerdas setara dengan kota yang dilingkupi dengan teknologi terbaru. Adanya jaringan internet yang cepat, tersedianya komputer pintar, warga yang memanfaatkan telepon cerdas (smartphone), ataupun tersedianya laman sebuah kota. Kota Cerdas, bukanlah semata soal teknologi. Kota Cerdas merupakan satu kesatuan utuh ekosistem kota, yang memiliki kehidupan yang lebih baik, lebih sehat, lebih nyaman, lebih menyenangkan, dan lebih membahagiakan.

Budaya, menjadi titik awal perjalanan menuju sebuah Kota Cerdas. Pendidikan dan peningkatan pengetahuan serta keahlian, menjadi langkah berikutnya. Bersamaan dengan itu, dibangunlah infrastruktur dan sistem pendukung yang menunjang pencapaian pengembangan pengetahuan dan budaya.

Kepemimpinan menjadi kunci utama dari keberhasilan sebuah Kota Cerdas. Kultur kepemimpinan kolektif egaliter, menjadi prasyarat utama keberhasilan. Pemimpin yang memahami benar visi Kota, bukan sekadar menjadi slogan di tepi jalan. Pemimpin yang benar-benar mendengar, menganalisis dan memberikan jalan keluar baru bagi permasalahan kota. Dan pemimpin yang benar-benar tidak lagi berpikir untuk memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompoknya.

Menjawab tantangan teknologi bukanlah hal yang rumit. Menyelesaikan tantangan kepemimpinan yang cerdas pun, seharusnya bukan menjadi sebuah hal yang rumit. Membangun budaya baru pada komunitas warga, juga akan terwujud, bilamana pemimpin telah memperoleh kepercayaan. Hanya butuh sedikit langkah strategis yang tepat untuk mewujudkannya. Lalu, apakah mungkin kota-kota menjadi lebih cerdas pada waktunya ?

*) penulis adalah Kepala Lembaga Penelitian, Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat STMIK Sentra Pendidikan Bisnis, Samarinda.

2 comments

  • Erike Malonda

    Mohon ijin pak untuk share artikel tulisan bapak, kami juga ingin mengundang bapak untuk ikut berpartisipasi dalam event pameran dan forum IISMEX (Indonesia International smart City Exhibition & Forum) Surabaya 2016 yang akan diselenggarakan tanggal 20-22 July 2016 di Grand City Expo Surabaya.

    Kalau bapak berkenan mohon info kontak detaik bapak untuk kami follow up ? Email saya di erike@napindo.com pak apabila bapak ada pertanyaan atau membutuhkan info lebih lanjut

    Terima kasih.

    • timpakul

      terima kasih informasinya, artikel saya dipersilahkan di re-share selama menampilkan sumbernya. untuk ikut dalam IISMEX, nanti akan saya kabari

Leave a Reply

%d bloggers like this: