segelas pagi

segelas pagi

pagi gerimis. perlahan tanah semakin muak dengan air dan membiarkannya mengalir di permukaannya. aroma tanah basah itu sangat khas dan membangkitkan berbagai ingatan. dedaun perlahan meneteskan butiran hujan yang menunda kejenuhan tanah. alunan pagi tak seramai biasanya. sebagian satwa masih berselimut menghangatkan tubuhnya.

kemaren saia berada diantara perbincangan yang singkat tentang penampakan. masih selalu, sampul buku itu penting. “sesuai yang disarankan, saya pergi ke tempat itu. ketika bertanya tentang harga, wow, ternyata sangat mahal untuk perawatan“. ya, bisnis penampakan masihlah dominan. menjadikan penampilan luar lebih baik, sebuah hal yang penting dan dipentingkan, sehingga memiliki nilai yang lebih. padahal, dedaun dan bebijian yang kemudian menjadi pupur dingin, sejak lama telah membuktikan, betapa murahnya alam memberikan keindahan penampakan.

seekor tikus melintas cepat. sekawanan ini memang semakin sehat sepertinya. cecurut yang tak jua menambah bobotnya, semakin ditinggalkan oleh semakin berbobotnya tikus-tikus rumah. dan mereka mulai secara tegas dan berani menunjukkan keberadaannya. mungkin serupa dengan tikus kantor, tak perlu lagi takut untuk menjadi korup, bahkan menjadi sangat membanggakan. hingga kemudian komisi itu memenjarakannya di tempat yang bertabur kemewahan. entah kemana perginya kucing itu, mereka lebih nyaman menyantap makanan dalam kaleng ataupun bungkus plastik.

penampakan itu memang selalu penting. “disisir rambutnya mas?” tanyanya sesaat sebelum saia melakukan perbincangan di sebuah studio televisi. “tak perlu, sesaat lagi juga pasti akan berbalik ke asal” jawab saia singkat. ya, saia tak begitu berpikir panjang soal penampakan. walau sebagian meyakini, bahwa tampak depan itu penting, untuk membangun sebuah pengaruh dan keyakinan pihak lain. namun saia tak pernah percaya itu. isi jauh lebih penting. metoda menyampaikan itu cukup penting. dan bagaimana intrusi itu terjadi, adalah hal yang penting, hingga tak pernah tersadarkan bahwa telah terjadi pengubahan isi pikir.

pagi ini cukup dingin. membekukan cara pandang. masih tersisa perdebatan soal orang tua penyampai agama. masih berbekas pembakaran rumah ibadah akibat corong pengeras suara. masih menjejak perilaku bandit dari aparat penegak hukum dalam bisnis paling menguntungkan. dan tayangan bertahan di alam bebas sepertinya mulai menjadi hiburan yang menyenangkan. gerimis pagi belum mampu menyapu ketidakberagaman. hangatnya alam tropis masih belum mampu memasak cara pandang keberagaman. setiap kita, masih terlalu disibukkan dengan keunggulan kelompok, agar kemudian menjadi berkuasa. hingga kemudian, antara balikin kartu identitas dan tetap mendukung calon pemimpin melalui partai, masih menjadi perdebatan semu.

bisnis pendidikan semakin suram. perebutan peserta didik tak lagi mengukur kualitas. yang penting, pundi-pundi lembaga nir laba semakin menggelembung. lalu pada saatnya kembali berteriak “dukunglah pendidikan anak negeri, kota ini membutuhkan generasi cerdas“. yang kemudian sebagian merasa ditipu dengan tampilan gedung ataupun brosur yang pernah dibaca. “tak sesuai harapan, kami hanya mencoba bertahan dan meraih gelar agar membanggakan orangtua kami“. sementara beasiswa itu mulai memfasilitasi bisnis belajar singkat, demi prestise yang tak pasti, dan menghibur mereka yang punya kuasa atasnya.

segelas chamomile sedikit menghampakan. pada jadwal resto yang tak pernah pasti itu. berulang kali memperbincangkan bisnis, yang tak pernah menemukan titik baliknya. selalu ada mimpi, yang kemudian terkubur diantara celoteh-celoteh tak berkesudahan. lalu kapan melangkahnya? hingga kemudian jejak kembali tersapu air bangai yang membunuh, namun mencucikan kehidupan.

kicau nyanyi burung dari perangkat pemutar digital itu belum berhenti. berharap ada walet yang tertipu. hingga kemudian sarang yang dibangun untuk generasi penerusnya, menjadi santapan di mangkok porselen. akal sudah tak harus menjadi sehat. penampakan tak terlalu penting memancarkan keindahan. kasur yang tak empuk itu menjadi penting. kembali bertidur, pada pagi yang basah. dan mulai bermimpi tentang sesuatu yang hanya sekadar berada di alam impian.

Leave a Reply

%d bloggers like this: