#Seri3R: Reduce itu mengurangi #Sampah

Peringatan: Dilarang keras membaca artikel ini sambil berasumsi ataupun beramarah. Kan baru aja kelar mengelola emosi, masa sudah gagal !

Urusan sampah memang tak mudah. Karena hampir 70% kehidupan instan itu menghasilkan sampah. Ada sebagian yang kemudian menjadikannya uang, karena memang dalam sampah selalu ada uang. Namun, upaya itu masih belum akan setara dengan jumlah sampah yang dihasilkan.

Teknologi pengolahan sampah pun sebagian besar masih menggunakan gali, tumpuk, tutup, atau lebih trend dosebut sanitary landfill. Teknologi ini meningkatkan aliran lindi yang bercampur beragam zat pencemar ke dalam tanah dan aliran anak-anak sungai. Pun bau sampah masih akan menyebar merata ke sekitar. Kalaupun ada teknologi pengolahan sampah terpadu, ya selalu menggunakan incenerator, yang pastinya dapat berpotensi menguapkan dioxin dan zat racun lainnya ke udara, dan sisanya ke tanah.

Salah satu bagian penting dari kampanya 3R adalah Reduce. Mengurangi sampah. Yang lalu ingin dijawab dengan plastik berbayar tak seberapa. Padahal, kalau saja ada kebijakan larangan peredaran plastik non-biodegradable, atau plastik tak terurai, ini akan lebih berdampak besar. Dan tentunya, ininakan membunuh begitu banyak industri recycle plastik yang menjadi kantong kresek ataupun kemasan lainnya. Soal harga, saat ini sudah sangat bersaing antara plastik terurai dan tak terurai.

Kebijakan kedua yang harusnya ada adalah agar setiap produsen kembali menarik setiap kemasannya. Dengan kompensasi ataupun reward tertentu, konsumen pasti bersedia melakukannya. Beberapa produk sudah mulai melakukannya, hanya daja masih belum menyentuh produk mie instan, ataupun masih hanya dilakukan saat moment tertentu. Sehingga bila dikatakan tak mungkin, lah nyatanya sudah berjalan dan konsumen bersedia. Hanya saja, apakah pemerintah siap untuk melahirkan kebijakan ini, dan produsen rela untuk ini?

Pada tingkat konsumen, lalu apa yang paling mungkin dipakukan? Berkontribusi pada dua kebijakan di atas tentunya. Selain itu, perilaku membuang sampah mesti digeser menuju perilaku mengolah sampah. Masih ada yang dibuang? iya sih, tapi kan berkurang. Bagaimana caranya?

Salah satu cara sederhana adalah meniru kelakuan om yang satu itu. Membuat kebun hidroponik di pelataran kecil rumahnya dan yang terpenting membuat komposter sederhana. Memang akan ada bonus belatung dan aroma sedikit, namun juga bisa diikuti dengan aroma uang. Dari komposter itu, bisa menjadi pupuk cair yang bisa diperdagangkan. Foto-foto di bawah ini adalah dari FB beliau.

image image image Komposter rumahan

Sederhana? Nggak juga. Walau tak seberapa, kebiasaan memilah sampah itu menjadi pekerjaan terberat. Bukan sekedar tak membuang sampah sembarangan, namun soal memisahkan mana yang organik dan mana yang bukan. Ini adalah pekerjaan yang terberat. Kalau malas membikinnya, beliau juga bersedia mengajarkan membuat ataupun membuatkannya, dengan harga diskon tentunya. Kontak aja via FBnya.

Hal lain yang mungkin dilakukan adalah mengurangi membeli kemasan kecil (sachet) dan harus lebih sering untuk bilang, “maaf, saya nggak usah pakai kantong plastik”. Apalagi peminum kopi sachet, cobalah hitung berapa banyak kemasan yang berakhir di selokan yang kemudian berlayar ke sungai. Serta penting untuk memastikan bahwa anda tidak terlibat dalam kejahatan pencemaran dengan membakar sampah rumah tangga.

Jadi, urusan sampah bukanlah semata urusan walikota ikut memungut sampah, ataupun muncul relawan pembawa sampah ke tempat pembuangan akhir. Karena, di pembuangan akhir itu lindi sampah mengaliri anal sungai dan mata air, dan meracuni air keseharian yang di hilirnya.

Kalaupun kemudian saia ditanya,”lalu apa yang sudah kamu perbuat?“. Saia pasti akan menjawab, “tak ada. saia hanya menulis. walau beberapa tulisan saia sudah mendoronn lahirnya kebijakan yang mengubah wajah provinsi ini menjadi sedikit lebih baik, dan tulisan saia menjadi pengetahuan dan menggerakkan bagi yang lain.” Sementara, saia masih akan tetap berada di depan gadget, berbagi pengetahuan, mengepulkan asap, sambil sesekali menikmati kuliner #RestoRatindo dan menyeduh kopi entah dari mana. Hanya itu sih. Jadi, sesuai dengan arahan paragraf pertama, jangan berasumsi dan jangan beramarah, karena sia-sia laparmu itu. Lebih baik alihkan energimu untuk bersiap menjadi Gubernur ataupun Walikota. #huray

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: