maaf

sudah bersih ?

sudah bersih? pesta pora sudah usai. riuh pasar kua tak lagi menyerbakkan wewangi karbohidrat dan protein yang bercampur lemak itu. dahaga tak lagi dibataskan matahari. benarkah telah kembali pada suci. pada sebuah kondisi yang berharap kembali pada titik bermula.

sudah bersih? hingga kemudian hari esok tak lagi berpikir untuk menggembungkan saku celana yang berlapis bahan terbaik itu. lalu kemudian hari esok tak lagi berpikir untuk menghisap kehidupan lain. pun kemudian hari berikutnya tak lagi melahirkan kesengsaraan baru, buah celoteh dan coretan di kertas-kertas yang menumpuk di meja yang tak bekerja itu.

sudah bersih? dimana sesampah itu tetap menuju pada aliran ke muara. dimana limbah cair terus menggenang dan menyerap pada tanah yang semakin mengeras. dimana lubang-lubang kematian itu dihadirkan untuk menunggu korban berikutnya. dimana menjadi diam adalah kesalahan terbesar, yang kemudian membunuh hidupan lainnya.

sudah bersih? ucap yang dilantunkan hanyalah terhenti pada bibir itu. remah uang yang dibagikan hanya berhenti pada tangan itu. pikir masih tetap berupaya melanjutkan kerakusan dan keangkuhan. rasa masih tetap saja menggeluti emosi dan egois. hingga kemudian, lantai hutan tak lagi berserasah.

sudah bersih? yakin bersih? sudah pasti bersih? mari letakkan lembaran tisu yang putih dari hamparan hutan yang diputihkan dengan natrium hidroksida dan hidro klorida yang menyajikan bau busuk ke udara dan cairan racun ke sungai itu. nantikanlah remah-remah kerakusan, keangkuhan, egoisme, dan keinginan untuk tetap bertahan hidup sendiri di alam ini. hingga kemudian kelu lidah untuk berkata maaf. karena bersih hanyalah sebuah imaji.

Leave a Reply

%d bloggers like this: