Tiup Lilinnya, Tiup Semangatnya

“Tak ada yang bodoh. Yang ada hanyalah yang malas, belum berani dan tak berkehendak dalam waktu.” Kalimat ini yang coba diletakkan ketika membangun nalar pendidik. Berbagi pengetahuan itu adalah bagian dari membangun jembatan masa. Ketika semakin banyak yang memperoleh pondasi keilmuan, maka hadirlah senyum kebahagiaan.

Saya masih belum cukup mampu memahami kebijakan blokir internet yang dikumandangkan dalam bentuk Peraturan Menteri, yang kemudian juga diikuti dengan hadirnya Surat Edaran di lingkar penegak hukum. Ada ketakutan yang sangat, ketika internet, sebagai saluran pengetahuan, malah berdampak pada pembelengguan. Kegagalan memahamkan ideologi lalu dijawab dengan membangun kanal-kanal pengetahuan. Semakin banyak pembungkaman dialektika, hingga penguburan ruang kreasi.

Hanya karena dalih pita lebarnya disedot oleh layanan over the top (OTT) atau layanan yang mengalir diatasnya, maka sebuah provider memberlakukan kebijakan baru yang memberikan batasan kuota bagi penggunanya. Dan dengan dalih serupa, para gamers online itu lalu tercerai berai mencari koneksi internet lainnya. Padahal, baru usai saya membangun kesepahaman tentang menggunakan jalan secara bersama.

Saya lebih mempercayai edukasi atau mendidik, dibandingkan melarang. Ketika pun hasilnya ruangan jadi entah apa, serta beragam aroma menebar, dengan belajar bersama, itu bisa dikembalikan pada jalurnya. Karena berada di kuali pendidikan, makapun larangan menjadi sebuah ancaman pencapaian misi pendidikan itu sendiri. Tak perlu khawatir mereka akan jadi apa, saya lebih mempercayai bahwa kecerdasan dan kreatifitas itu lahir dari edukasi, bukan dari ancaman.

Meniup lilin semangat yang baru tumbuh itu, serupa dengan memadamkan masa depan mereka. Mungkin berlebihan, namun bisa jadi itulah yang akan terjadi. Makapun harus tetap dijaga nyala semangat beraktivitas itu. Hanya langkah selanjutnya yang perlu dilakukan, mengarahkan hangatnya pada kemanfaatan yang lebih.

Berhentilah menjadi pendidik, bila memang tak ingin mengedukasi. Berhentilah menjadi pendidik, bila memang tak pernah mendidik diri dengan pengetahuan baru. Berhentilah menjadi terdidik, bila lalu hanya berharap ada pesan singkat tiba di akhir bulan. Maka pun, saya memilih berhenti mendidik.

Leave a Reply

%d bloggers like this: