toko kelontong

Dulu saya pernah mendengar seorang pekerja non profit berujar ke saia “ini cuma sementara, setelah enam bulan, saya akan buka toko kelontong“.
 
Sudah lebih dari satu dekade ucapan itu. Berulang kali saia bertemu lagi dengan yang berujar, dan saia masih mengajukan pertanyaan yang sama, “gimana toko kelontongnya?“. Dan jawaban yang ada pun tetap sama, “anu.. anu .. anu..“. Terjemahan resmi dari kalimat itu adalah “belum ada tokonya“.
 
Apakah benar untuk membangun dan membuka toko kelontong memerlukan waktu lebih dari satu dekade? Begitu kecilkah gaji yang diterima oleh seorang yang bekerja di lembaga non-profit? Atau terlalu besar modal yang diperlukan untuk mewujudkan toko kelontong?
 
—–
 
Beberapa tahun belakangan ini, saia kerap mendengar cerita seorang, “saya ingin buka rumah makan“. Lalu, entah bagaimana jalannya, agak gelap memang, tercukupkan niat itu. Warung makan telah berdiri, dan berjalan selama sebulan. Lalu, kembali saia mendengarkan “kayaknya sudah nggak bisa jalan ini“. Dan cerita berlanjut dengan rencana pengalihan investasi warung makan itu.
 
—–
 
Sebulan terakhir ini, saia telah menyampaikan pengunduran diri saia dengan berbagai lembaga dan institusi tempat saia bekerja dan beraktivitas. Tawaran peningkatan gaji dan fasilitas diberikan. Ini adalah pilihan. Itu aja sih.
 
Lalu saia ditanya, “setelah ini memangnya mau kemana?“. Secara simple saia menjawab “jaga warung“. Beruntunglah tak ada yang pernah bertanya lanjutannya. Karena kalau ditanya lagi, saia pasti tak akan sanggup menjawabnya. Entah warung yang mana yang akan dijaga. Pastinya, untuk bangun toko kelontong butuh waktu lebih dari satu dekade, dan untuk bikin warung makan, memerlukan investasi yang tak sedikit.
 
Menjaga konsistensi ucapan dan memelihara komitmen adalah pekerjaan yang paling berat. Pun ketika komitmen itu siap untuk dideliverkan. Selalu ada ruang hampa yang menjadikannya tak mudah mewujudkannya. Dan itu seperti labirin yang tak tersentuh peta online.
 
—-
Berikutnya, hanya tinggal mengucapkan ulang apa yang pernah diujarkan, “secara personal, saia sudah selesai dalam mencapai visi organisasi yang pernah dibangun. dan setiap pendirinya, sebenarnya telah berada pada ruang yang mampu mewujudkannya, tanpa perlu berada pada satu perahu. ini saatnya untuk menyerahkan perahu pada yang berikutnya, mungkin ada visi dan mimpi yang bisa diantarkannya.” Inilah mengapa bumibaru.id ditandatangankan lagi.
 
 

Leave a Reply

%d bloggers like this: