Wisata: Bagaimana Menumbuhkannya?

Hampir setiap wilayah saat ini memprioritaskan wisata sebagai sebuah jawaban atas masa depan ekonomi mereka. Seorang calon pimpinan daerah, berujar “Ada dua hal yang mengundang orang untuk datang ke suatu wilayah dalam jumlah besar, pendidikan dan kesehatan.” Ya, bisa jadi benar apa yang disampaikan ini. Tempat pendidikan (baca: memperoleh gelar akademik) dengan gedung yang megah akan mengundang banyak orang untuk datang. Pun terhadap fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, yang mampu memberikan pelayanan yang sangat baik, akan mengundang pelancong untuk berkunjung.

Ini menjadi anti-tesis terhadap diskursus wisata yang selama ini dibangun. Hampir setiap program wisata berbicara tentang fasilitas wisata, termasuk pada infrastrukturnya. Padahal, sebagian besar orang berkunjung bukanlah semata karena wilayah tersebut memiliki keindahan ataupun keunikan tertentu, namun juga karena kenangan yang diperolehnya. Untuk memperoleh kenangan tersebut, maka butuh magnet yang mengundang kedatangannya. Saat ini, yang sangat dominan adalah pendidikan dan kesehatan.

Jumlah kunjungan pada tempat-tempat wisata, yang sangat luar biasa, umumnya didorong pada sebuah kekhasan sebuah tempat. Bukanlah semata karena keindahan tempat tersebut. Karena ada sebuah acara yang menarik, maka kemudian mulailah setiap orang berkunjung. Apa yang disajikan dalam sebuah tayangan film, juga merupakan bagian yang tak terpisahkan sebagai pendorong utama dari kedatangan. Jadi pembuatan iklan wisata yang biayanya bisa jadi melampaui biaya pembuatan film komersial, belum tentu akan mengundang setiap orang untuk berkunjung. Kembali, pendidikan publik melalui sebuah intervensi persepsi, dapat melampaui sebuah pola program wisata yang biasa.

Proses-proses replikasi, mencontoh, atau bahkan cenderung melakukan proses salin-tempel terhadap apa yang ada di wilayah lain, belum tentu akan menghasilkan hal yang serupa. Misalnya, ketika sebuah kota sudah membangun pusat hiburan luar ruang yang dibawa ke dalam pusat perbelanjaan dan terintegrasi dengan hotel, belum tentu akan menghasilkan kunjungan yang serupa bila dibangun di tempat lainnya. Pun ketika sudah ada event yang menjadi wah di satu kota, belum tentu bila direplikasi akan menghasilkan kunjungan dan dampak yang serupa bila dilakukan di kota lain.

Sehingga, menjadi penting kemudian, cara pikir penyusun program wisata di setiap wilayah harus mulai digeser. Pemimpin daerah harus memilih dan memilah layanan pendidikan atau layanan kesehatan apa yang akan disediakan oleh wisatanya. Apa yang tidak tersedia di wilayah lain, penting untuk dibangun dengan kualitas yang sangat terbaik. Sehingga, ini akan membuka cakra setiap yang datang, untuk kemudian membangun kenangan pada wilayah tersebut. Dan gelombang viral akan terbangun dengan sendirinya.

Lalu, apa mercusuar layanan pendidikan atau layanan kesehatan yang akan dibangun pada sebuah wilayah? Inilah yang penting untuk digali, dieksplorasi dan diuraikan dengan lebih mendalam. Memang bisa jadi butuh kajian, namun setiap ini hanya akan dihasilkan dalam sebuah pola kelahiran satu detik, saat kemudian menemukan kemewahan gagasannya, dan diyakini sebagai sebuah keunikan layanan pendidikan atau layanan kesehatan, yang tak akan ditemukan di wilayah lainnya. Masih mau menggunakan cara lama untuk mengundang para pelancong?

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: