#BanjirSmr Bukan Urusan Sampah

Kejadian banjir besar yang berulang di Samarinda, bukanlah urusan Sampah. Ketika menempatkan urusan banjir sebagai urusan sampah, maka kesalahan lalu ditimpakan ke warga.

rekomendasi saia sejak tahun 2000 nggak dipakai juga… bahkan ketika rekomendasi itu diplagiasi oleh seorang dosen pun, juga nggak berdampak apa-apa… dan ada yang janji untuk mempertemukan dengan ketua bappeda, ternyata haox aja… putusan gugatan citizen law suit yang memenangkan saia juga nggak dijalankan.. jadinya ya… mending nikmati aja, dan yakinlah, bahwa banjir samarinda bukan urusan sampah, itu sih 🙂

Badai di utara Kalimantan yang kemudian berdampak pada meningkatnya curah hujan, tak akan berdampak besar bilamana telah dilakikan pengurusan kota yang benar. Benar bahwa Samarinda berada pada ketinggia 0-200 meter dari permukaan laut. Keberadaan Timpakul di sepanjang KarangMumus juga menjadi pertanda intrusi air laut pernah terjadi hingga ke Samarinda. Namun bukan berarti tak ada solusi bagi Banjir kota dalam rinjing ini.

Rawa yang tak begitu luas di Samarinda telah dengan sadar diserahkan sebagai wilayah permukiman. Bukit-bukit berhutan, dengan sadar diberikan pada pertokoan dan kawasan perniagaan, serta sebagian diruntuhkan batuannya, dan tak pernah dikelola pun.

Artinya, secara sadar, pemerintah secara turun-temurun hanya menjalankan fungsi surat, tanpa pernah memperhatikan kondisi lingkungannya. Lalu setiba-tiba meyakini Samarendah sebagai awal sejarah nama kota, yang kemudian menjadikannya nama sebuah tempat, seolah agar warga memaklumkan bila limpasan air permukaan melimpah ruah.

Lokasi polder yang tidak tepat, drainase tanpa perhitungan alirna permukan, penghabisan kawasan berpepohonan, IMB tanpa kewajiban sumur resapan, hingga penimbunan rawa berkelanjutan, telah mengakumulasi limpahan air ke daratan. Pun pendirian bangunan di sempadan sungai dan anak sungai mahakam, terus dibiarkan, baik secara legal maupun illegal.

Lalu apa yang tak bisa dilakukan? Karena pun pemimpin kota, bahkan provinsi, mencuci tangan di kobokan, lalu kemudian berkata “tak ada solusi”, “tak ada uang”, hingga “tak ada kewenangan”.

Jenuh dan bosan, tak ada perlu solusi baru. Karena terlalu banyak tempakul di beranda rumah publik itu. Seolah dengan sadar berujar “sayalah yang mampu menjadi pembisik bagi pemimpin”. Dan kemudian lupa, bahwa pembohongan itu akan menghapus doanya.

Makapun, nikmatilah banjir ini. Dan yakinlah bahwa menyelesaikan banjir bukanlah urusan sampah. Seperti yang pernah saia tuliskan di tahun 2005, Menyelesaikan banjir Samarinda adalah jalan lain ke surga. Itu sih …

Leave a Reply

%d bloggers like this: