es kopi dingin

es kopi dingin

Ini es kopi atau cold brew“. Entahlah. Ada yang menyukai es kopi, yaitu air kopi dijatuhi es batu. Ada pun yang juga mulai menyukai es batu yang dijatuhi kopi yang disaring. Pun ada yang menyukai kopi yang diseduh dengan air bersuhu biasa dan kemudian disimpan hingga lebih dari 12 jam di dalam lemari pendingin. Kopi dingin, kabarnya mampu menurunkan asam dari kopi. Juga dapat menemukan rasa yang berbeda, termasuk mengeluarkan wine, bila telah menjadi #kopibasi.

Ya. KopiBasi. Mungkin ini sebutan yang lebih menarik untuk air kopi yang telah didiamkan lebih dari 3 hari. Menemukan sendiri rasa yang lain dari segelas kopi yang tak hangat. Tak juga menghilangkan rasa kopinya, namun menemukan rasa baru dari air kopi.

Lalu mengapa harus mencari rasa kopi yang berbeda. Bila kemudian pada kebiasaan, kopi itu harus diseduh dengan air yang baru mendidih, dengan suhu seratus derajat celcius. Kopi yang membakar, dan menjadi hangus, menghasilkan aroma yang sangat tajam dengan kepahitan yang di lidah sebagian besar peminum kopi, merupakan rasa yang tepat. Tak ingin menyedukan kopi dengan air yang dingin, karena dikabarkan dapat menimbulkan kesakitan pada saluran cerna.

Enak atau tidaknya kopi juga sangat subyektif. “Masuknya enak“, ini komentar yang paling sering ditemukan. Tak perlu berkata tebal tipisnya kopi. Atau low hingga high acid dari rasa kopi. Pun untuk menemukan aroma rempah, buah, ataupun bebungaan hingga tanah dan kacang. Yang utama dari segelas kopi adalah dapat dinikmati dan tidak menghadirkan kesakitan baru. Termasuk pun menjadi tak mudah tertidur.

Ada ruang diskusi baru tentang segelas kopi. Melawan kebiasaan yang tak menjadi biasa. Dikenalnya jenis-jenis baru dari kopi, dan pendekatan peredaran kopi yang berbasis kebun, tak lagi sekedar berbasis kewilayahan ataupun sekedar jenisnya. Setiap orang lalu dapat bebas untuk menginterpretasikan bagiamana kopi ditanam, dijemur, diolah, hingga disajikan. Tak ada sekat pembatas di dalamnya. Hanya butuh keberanian untuk melawan arus yang sudah sangat mainstream selama ini. Kopi itu hitam, kental, pahit dan menyisakan ampas yang menyentuh bibir ketika meminumnya.

Kedai kopi, warung kopi, hingga cafe kopi, menjadi ruang baru untuk mempertemukan. Keriuhannya hingga kesunyiannya adalah ruang yang menarik untuk didatangi. Sajian-sajian lain, yang bisa jadi utama ataupun pelengkap, pun sangat menarik untuk dieksplorasi lebih jauh. Setiap kedai, warung dan cafe pun berupaya menemukan rasa dan suasananya sendiri. Hingga setiap yang ingin membukanya, butuh waktu yang tak sebentar untuk menemukan keunikan dari gerai yang akan dibukanya.

Padahal kopi adalah kopi. Yang membebaskan setiap orang untuk menginterpretasikannya. Satu bagian yang sangat kerap diabaikan adalah memperoleh umpan lambung dari pengunjung gerainya. “Pahit banget penyajinya“, ungkapan ini bisa menjadi sebuah kritik sederhana namun tajam. Bukan soal rasa kopinya, namun soal bagaimana mengantarkan segelas kopi pada peminumnya. Atau ungkapan “Lama sekali sih“, yang bisa menjadikan peminum enggan untuk berbalik kembali pada kursi yang sama.

Pun sebenarnya, aroma segelas kopi itu bisa memiliki aura pengundang yang berbeda pada setiap jengkal ruang berpadunya. Pun sebenarnya media sosial masih belum menjadi media yang tepat untuk menghadirkan pengunjung baru. Percakapan di sejengkal meja, justru akan menjadikan pengundang kehadiran interaksi pada segelas kopi.

Es kopi dingin dapat saja kembali hangat. Andai saja jiwa berpadu di dalamnya. Membekunya segelas kopi tak serta merta menjadikan hilangnya kehangatan. Perbincangan yang hadir di sekitar segelas es kopi dingin, tak akan menjadi basi. Teruslah membangun percobaan-percobaan baru dalam segelas kopi. Bertemulah pada ketiadaan yang ada, dari sebutir biji kopi. Yang tentunya tak sebesar sebutir biji ulin yang induknya tumbang di tanah yang kemudian merekah.

1 comment

  • tya

    Blognya keren! Informasinya bermanfaat.
    Numpang share info ya.. kita lagi cari orang2 dengan talent bahasa Inggris untuk ngajar di tempat kursus kita di Balikpapan dan Samarinda. Ga perlu lulusan bahasa Inggris. Masih kuliah juga boleh. Kalo berminat, email ke sini ya: englishtalentseeker(at)gmail.com

Leave a Reply

%d bloggers like this: