Kiramologi dan Mahalabiu Kota

Kabar baik, ketika sebuah kota sudah mulai memperbincangkan sejarahnya. Lalu munculah dialog-dialog, walau semu, tentang kesejarahan sebuah kota. Artinya akan ada yang mulai membaca kota dan mengenal lebih jauh tentang kotanya. Dan pada titik ini, kemudian memperbincangkan masa depan sebuah kota bisa mulai bergerak.

Tak terlalu penting tentang metodologi yang digunakan dalam membaca sebuah kota. Seperti halnya pesan pendek yang pernah ada “ada ToRnya nggak?”. Ini yang kemudian telah meruntuhkan banyak metodologi riset yang sebenarnya masih dipergunakan keberadaannya. Kebiasaan perusahaan LSM telah membawa ToR sebagai patokan utama dalam memulai riset apapun itu.

Bukan kemudian mengabaikan kerangka acuan, namun tak butuh juga menjebakkan diri di dalamnya. Gunakanlah kiramologi sebagai pendekatan yang digunakan dalam riset sosial sebuah kota. Metodologi mengira-ngira. Toh, dalam beragam dialog, kemudian diberikan panggung pada ahil yang ahil-seahli-ahlinya, walau tak pernah bersentuhan dengan substansi yang akan dibagikan informasinya. Kiramologi menjadi pendekatan yang paling tepat untuk membaca kota dalam beragam perspektif.

Karena memang kota anonim yang berada dalam rinjing ini tak pernah memerlukan sebuah metoda yang rumit. Cukup dibaca dengan sederhana. Lalu kemudian mulai menuliskan cerita-cerita yang bermunculan dalam event mahalabiu yang terjadi pada hampir setiap ruang kotanya. Lalu kemudian, dipertautkan dengan beragam referensi, yang tak terlalu banyak, tentang kota ini.

Kesejarahan kota bukanlah untuk kemudian kembali ke masa yang telah berlalu. Namun ketika jas merah mulai dikenakan, maka ada sebuah pijakan yang lebih kuat dalam melangkah selanjutnya. Dalam menata ruang kota, merekonstruksi kehidupan sosial, hingga melahirkan bangkitan ekonomi baru, maka bacaan terhadap peristiwa lalu menjadi penting. Pun terhadap mengelola genangan yang lamban mengering, butuh belajar pada tempat yang sama pada waktu yang berbeda.

Dan lompatan kemudian adalah ketika kota anomim dalam rinjing ini ingin menghadirkan sajian yang lebih mengena pada setiap lidah yang menikmatinya, para chef harus memastikan bahwa setiap perasa adalah memang yang benar ingin merasakan sensasi rasanya. Bukan pada mereka yang hanya sekedar ingin mengenyangkan perut semata. Mempernalkan rasa baru pada lidah yang ingin dirasakan, menjadi pembeda dalam melompatkan posisi kesejarahan sebuah kota.

Tak perlu ribuan proyek berkelanjutan, untuk kemudian membangun museum kota. Tak jua dibutuhkan ratusan lembar proposal untuk diajukan pada setiap ruang kantor. Hanya butuh menuliskan dan melukiskan tangkapan rasa dan cita, Dengan merekam percakapan halabiu, dengan pendekatan kiramologi. Begitu sih.

Selamat berlibur …..

*masihmenunggukembalinyablogyangdisuspend*

Leave a Reply

%d bloggers like this: