Meluaskan Jangkauan Melalui Media Sosial

Apa yang diharapkan dari media sosial? Secara sederhana, pada pemain media sosial berharap memperoleh respon yang lebih dari para pengikut (followers) ataupun para temannya (friends). Ini kemudian mendorong para pengguna menggunakan beragam alat bantu untuk mengejarnya.

Dalam memanfaatkan media sosial bagi wirausaha yang dilakukan, maka tidak serta merta hanya sekadar untuk membagikan pesan atau informasi di media sosial. Selalu ada cara yang lebih efektif dan efisien dalam melakukannya.

Pertama, para pelaku usaha, sebaiknya tetap memiliki satu website khusus yang berkaitan dengan brand ataupun produknya. Keberadaan website, dengan domain yang tak gratis, bahkan domain indonesia, akan meningkatkan kepercayaan calon konsumen. Sedangkan websitenya tetap dapat menggunakan wadah gratisan, semisal blogger.com ataupun wordpress.com. Walaupun tetap disarankan memiliki hosting sendiri, bahkan server sendiri, bilamana bisnisnya sudah semakin bertumbuh.

Kedua, tempatkan media sosial sebagai salah satu media di dalam melakukan penjangkauan dan menjalin hubungan. Media sosial hanyalah alat bantu, bukan satu-satunya alat. Ini sangat tergantung pada value (nilai) yang ditawarkan oleh brand atau produk, dan siapa target konsumennya. Karena posisinya sebagai media komunikasi, maka media sosial harus dapat membawa value brand kepada konsumen dengan tepat.

Ketiga, email atau surat elektronik, masih tetap menjadi salah satu alat komunikasi yang baik dalam menjaga hubungan dengan konsumen. Lakukanlah pengumpulan email pelanggan dengan cara yang baik dan benar, dan tentunya berdasarkan persetujuan dari pelanggan. Selanjutnya, melalui email pelaku usaha dapat memberikan informasi secara berkala terkait dengan value produk, event khusus, maupun penawaran khusus bagi pelanggan.

Keempat, pilihlah media sosial yang tepat. Media sosial yang diprioritaskan sangat bergantung dari value produk dan target konsumen. Setiap media sosial memiliki karakteristik khusus, semisal soal demografi, pendidikan, kelas ekonomi pengguna, hingga usia. Media sosial facebook tentunya akan sangat dominan pada kota-kota menengah ataupun Indonesia mengarah ke timur. Sedangkan twitter, masih efektif bagi pengguna di kota-kota yang padat jalan rayanya. Untuk menentukan media sosial yang tepat, lakukanlah riset kecil untuk itu. Ataupun bisa merujuk pada data We Are Social atau APJII.

Kelima, lakukanlah penjangkauan dan membangun relasi dengan calon konsumen pada waktu yang tepat. Berdasarkan beragam data, setiap netizen hanya aktif menggunakan media sosial antara 2 hingga 3,5 jam setiap hari. Dan pada hari-hari tertentu, terjadi lonjakan pengguna, semisal hari Rabu untuk Kota Samarinda. Juga terjadi fase sepi di media sosial. Sebagian besar netizen, akan aktif pada fase pukul 18.00 – 20.00, dan sebagian cukup aktif pada pukul 06.00 – 08.00. Sedangkan pada kota besar, waktu menuju hingga setelah makan siang, merupakan kepadatan bagi netizennya. Artinya, butuh riset kecil juga untuk memahami karakteristik netizen dalam menggunakan media sosial tertentu.

Keenam, pantaulah hasilnya. Melihat respon dari pengguna sosial dapat dilakukan melalui proses like, retweet atau reshare. Selain itu juga dari komentar, baik di kolom komentar maupun dari proses reshare. Dampak ini harus diukur, agar kemudian menemukan media sosial yang lebih tepat, konten yang lebih baik, hingga waktu berbagi yang lebih tepat. Ada beberapa teori dan alat yang bisa digunakan dalam melakukan analisis ini, semisal dari hootsuite, buffer ataupun socialmediaexaminer. Memang agak menyusahkan, namun tetap penting bila berpikir jangka panjang.

Ketujuh, berdiskusilah. Ini bagian yang paling penting dalam proses mengembangkan optimalisasi pemanfaatan media sosial untuk kepentingan bisnis. Sebaiknya memiliki tim yang kuat untuk ini, namun bila tidak, maka penting untuk melakukan proses diskusi dan diseminasi pengetahuan. Semakin banyak eksperimen yang dilakukan, akan memperoleh semakin banyak metodologi baru dalam mengembangkannya. Pengetahuan Social Media Strategist bukanlah pengetahuan statis. Ia sangat bergantung pada kultur, teknologi, dan tentunya hukum.

Bisa saja pada tahap awal, yang dilakukan adalah hanya sekadar memposting sesuatu di media sosial. Ataupun berharap Groups Facebook dengan anggota yang besar akan membantu meluaskan paparan. Namun, hampir sebagian besar proses perluasan akan sangat dibantu oleh adanya advetorial yang dipaparkan di media sosial. Ada Facebook Ads, Google AdWords, hingga Twitter Ads, yang berbiaya tak terlalu mahal, untuk mendorong perluasan penjangkauan. Hanya saja, dalam menggunakannya, tetap penting untuk memahami apa value brand dan siapa konsumennya.

Mulailah, dan lakukanlah. Hanya itu yang dapat membawa bisnis menjadi lebih tepat dalam mengoptimalkan pemanfaatan internet. Sisi yang baru, tentunya harus dipelajari dengan baik. Bila tidak, maka hanya akan membuang-buang waktu, untuk mencoba membagikan informasi brand melalui media sosial. Mungkin itu.

2 comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: