eRepublik

Politik di Sosial Media

Sebuah cerita menarik diulas di sebuah media, tentang Politik Busam. beliau mengharapkan agar Busam dapat didorong menjadi lebih maju, “Sudah saatnya Busam ambil bagian menjadi solusi. Misalnya, dengan berdiskusi secara serius (lewat ajang kopi darat) untuk menentukan kriteria pemimpin masa depan Samarinda. Dari kriteria tersebut, mulailah screening siapa saja orang Samarinda yang memenuhinya. Setelah itu, adakan polling berkelanjutan.” Lalu apakah harapan tersebut mungkin diwujudkan melalui media sosial? Entahlah.

Entah sejak kapan, sebuah permainan online tentang bagaimana kehidupan bernegara itu ada. eRepublik telah dilahirkan dengan meniru model negara. Ada presiden, ada gubernur, ada partai politik, ada bisnis dengan industri bahan baku dan industri hilirnya, hingga ada tentara dan peperangan. eRepublik telah dihadirkan dengan model yang serupa dengan sistem politik dunia hari ini.

Apa yang menarik dari permainan ini? Karena setiap ruang bermain adalah serupa. Partai politik harus dibangun dengan modal yang disediakan (gold). Lalu harus mulai melakukan perekrutan anggota. Pimpinan partai politik harus ditentukan berdasarkan voting anggota partai. Pun dalam penentuan anggota parlemen, harus berdasarkan usulan dari partai, dan melalui pemilu. Pun hingga presiden akan ditentukan berdasarkan pemilu raya. Setiap netizen berhak menentukan suaranya.

Pemilihan anggota parlemen

Pemilihan anggota parlemen

Dalam menjalankan sebuah usaha, juga serupa. Harus memiliki modal, harus merekrut tenaga kerja, dan melakukan promosi dan penjualan produk. Bila gagal dalam mengelola, maka perusahaan bisa bankrut. Entah saat ini, di awal beberapa warga membentuk Bank, yang dapat memberikan pinjaman modal dan merekrut dana tabungan warga. Menariknya adalah Bank dibangun di luar sistem yang dikembangkan oleh penyedia layanan game. Aturan perbankan dan akun perbankan dibangun sendiri oleh warganya.

Perdebatan menarik pernah terjadi, ketika mulai dimungkinkan membangun parta politik di eRepublik. Banyak yang menganggap terlalu serius permainan ini, sehingga kemudian partai politik harus serupa dengan di dunia nyata. Lalu balakangan, partai-partai politik tertentu juga diperdebatkan, karena di dunia nyata partai tersebut sudah tak ada. Namun kemudian, partai tersebut justru masih bertahan walaupun tak jua membesar. Parodi partai politik di dunia riil juga terlihat di eRepublik. Ini menjadi sebuah gambaran riil bagaimana netizen mulai berpolitik dan melakonkan sebagai aktor politik.

Kembali ke politik sosial media, ada hal yang berbeda di dalam pergerakan politik di dunia nyata dan dunia maya. Groups sosial media, dengan keragamannya, dibentuk dengan tujuan tertentu. Beberapa group sosial media, yang walaupun memperbincangkan kota ataupun permasalahan sosial, bahkan menegaskan bahwa tidak memperbincangkan urusan politik. Ketakutan perpecahan di dalam group sosial media menjadi unsur utama di dalamnya. Selain juga, kekhawatiran terbawa arus politik praktis.

Padahal, politik bukanlah semata urusan agenda politik lima tahunan. Politik jauh lebih luas dari urusan kepemimpinan wilayah. Bagaimana kebijakan kota dan bagaimana keberpihakan terhadap kepentingan publik, juga terkait erat dengan politik. Menjauhnya group media sosial dari politik, sudah jelas akan terus berlangsung, kecuali untuk group media sosial yang dibentuk untuk politik pratkis. Maka pun, kesadaran politik netizen masih butuh untuk diluaskan.

Mungkin tak terlalu banyak yang mengenal Pirate Party, atau saia sering menyebutnya sebagai Partai Bajak Laut. 41 negara telah membentuk Pirate Party di wilayahnya. Aktivis Pirate Party sebagian besar adalah kelompok yang bekerja pada teknologi informasi, mulai dari keamanan informasi sampai dengan software developer. Dan sebagian besar mereka merupakan aktivis open sources. Pun di luar itu, kelompok ini merupakan kelompok yang bergerak melalui media sosial. Namun mengapa kemudian perkembangannya di Indonesia menjadi tak terlalu menarik? Tak kurang dari 100 netizen yang memiliki interest yang sama tentang Pirate Party di Indonesia.

Bisa jadi, sebenarnya netizen belum masuk pada fase poliitknya, dan masih membawa karakter citizennya, yang tidak percaya pada partai politik. Sehingga urusan politik benar-benar dipandang serupa dengan partai politik. Lalu kemudian, proses mengorganisir diri, walaupun melenguh tentang kondisi sosial dan kehidupan kebangsaan, tetap tak ingin dicampurkan dengan urusan politik. Ketika mulai berbincang tentang pimpinan masa depan, lalu sangat dieratkan dengan partai politik ataupun pekerjaan politik, yang penting dijauhkan dari netizen saat ini.

Pun ketika fenomena Teman Ahok mulai muncul. Kerelawanannya pun mulai diragukan. Lalu kemudian ketika partai politik mulai merapat, kemudian mulai berhembus angin yang menggoyangkan perahu kerelawanannya. Memang, perdebatan tentang bagaimana proses hybrid dalam politik pemimpin wilayah, selalu berkaitan dengan bagaimana kemudian media sosial dan internet secara keseluruhan dapat menjadi sumber daya tambahan, untuk menjangkaukan konstituen.

Di akhir ulasannya, artikel tersebut menyampaikan “Dan ingatlah, jeritan di dunia maya adalah lolongan sia-sia jika tidak diikuti aksi nyata.” Kalimat ini bisa jadi benar. Namun terkadang, jauh lebih sering apa yang terjadi di dunia maya berhasil dikonvergensi oleh media konvensional, yang kemudian membawa perubahan di dunia nyata. Pun pada beberapa hal, kerap apa yang saia tuliskan di blog mampu memberikan perubahan, walaupun tidak besar, pada dunia nyata. Jadi, jeritan di dunia maya belumlah sia-sia, apalagi hanya menjadi lolongan. Hanya butuh kesabaran dan strategi yang tepat agar kemudian memberikan makna lebih.

Namun, tetap menjadi penting, gagasan untuk melahirkan pemimpin baru Provinsi Kaltim ataupun Walikota Samarinda, ataupun pemimpin wilayah lainnya di beragam wilayah negeri ini menjadi sangat diperlukan. Dan kolektivitas melalui media sosial, group-group media sosial, tentunya akan menguatkan mimpi yang diharapkan di dunia nyata. Walaupun saia tak terlalu berharap pada groups sosial media yang telah terbangun, karena masih belum keluar dari karakteristik citizen. Butuh pembangunan karateristik baru bagi netizen, bilamana mengharapkan media sosial dapat menjadi pendorong pengubahan bagi negeri ini, termasuk dalam menentukan pemimpin kota masa depan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: