Skenario

“Kok bisa cepat pemberitaannya? Pasti sudah diskenariokan.” Demikian ujaran di beragam kanal sosial media, merespon pemberitaan media mainstream terkait sebuah peristiwa. Seolah ada sutradara yang sedang nelaksanakan skenario, dan aktor-aktor yang hanya memainkan perannya.

Ini jaman sosial media. Terkadang pun saia mengujarkan, “Belum kejadian saja, sudah ada yang mengunggah informasinya.” Karena memang saat ini setiap pengguna bisa berkabar. Dan pada peristiwa-peristiwa tertentu, ini pasti sangat cepat putarannya.

Namun, apakah keriuhan yang terjadi di kota yang semakin jauh dari ibunya, akan mampu menjadi perbincangan yang terus bergulir? Tentu tidak. Putaran kabar itu sangat lokal spesifik, sementara kabar pada wilayah ibu, pasti akan mempengaruhi perbincangan pada anak kota. Maka pun, sekecil apa kejadian di ibukota, ketika mulai viral, maka ia akan menjadi perbincangan hingga di ujung anak kotanya.

Beragam kejadian terkait di ujung negeri, tak akan pernah menjadi viral di ibu negeri. Sebaliknya, berita di ibu negeri yang viral, pasti akan menjadi perbincangan hingga ke sudut warung ngopi. Inilah sentralistik informasi, yang masih belum bisa dijawab media sosial.

Pun bisa jadi, pewarta warga enggan memberitakan dan mendorong kabar pada level yang lebih tinggi. Karena memang membutuhan daya yang lebih, agar bisa menjadi perbincangan meluas.

Pun para buzzer, sangat enggan mengocok kabar lokal. Tak akan berdampak, termasuk dampak popularitas, apalagi memenuhkan pundi. Jadi, berjuanglah mewarnai konten dengan kabar sekitar. Berhentilah mengabarkan kabar jauh, apalagi hanya di ibukota negeri. Lupakanlah mereka, karena mereka telah lupa pada kalian.

Dan, inilah kekuatan media. Makapun para pelancong politik tak segan untuk membeli media mainstream, agar menguasai negeri. Dan kemudian, netizen pun masih butuh waktu untuk merebut ruang yang seolah tak dikendalikan ini. Entah sampai kapan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: