Yellow caturra

tak selalu merah

Akhirnya berkesempatan untuk merasa seduhan biji kopi buah kuning. Yellow caturra, buah kopi yang berwarna kuning, yang merupakan varietas yang berasal dari Amerika Latin, atau kerap disebut berasal dari Colombia, juga tumbuh di Beiwali, Bajawa, Ngada. Dan hampir setiap artikel menyebutkan, terdapat 700 pohon kopi dengan varietas ini di wilayah tersebut.

Dengan rasa yang menarik, disebutkan memiliki rasa dan aroma yang lengkap, varietas kopi ini menjadi unik. Dan semakin unik, karena tak terlalu banyak jumlah pohonnya. Lalu, mengapa hanya terbatas yang menumbuhkan varietas ini?

Pada sebuah waktu, ketika luwak menjadi trend dalam memproduksi kopi, seorang pekerja lembaga layanan publik yang bertugas mengembangkan komoditas kopi pun mulai mencoba hal serupa. Dengan cara yang sederhana tentunya, luwak diberi makan hanya kopi. Sebelumnya, dilakukan pengadaan luwak, agar program berjalan. Dan kemudian, dapat ditebak, maka pun luwaknya harus mati, yang bisa jadi mabuk kopi, karena hanya diberi santapan kopi.

Pun terhadap spesies liberica dan excelsa. Spesies Liberica sangat dikenal dengan Kopi Dayak. Bisa jadi karena sejak tahun 1879 kopi ini sudah masuk di Sarawak, pada komunitas Iban. Kopi yang merupakan turunan dari jenis Robusta ini, harusnya mudah untuk ditemukan di tanah Kalimantan, yang walaupun masih kalah daya tahannya terhadap jamur, tapi dimanakah ia? Memang tak mudah lagi menemukan kopi nangka ini, sebutan lain bagi kopi liberica.

Bila saja Jambi sangat terkenal sebagai eksportir kopi jenis ini, lalu mengapa Kalimantan, sebagai tempat berkembangnya jenis kopi ini masih belum mampu menjadikannya sebagai komoditas penting di wilayahnya. Bila merujuk pada statistik yang selalu dikeluarkan oleh pelayan publik, maka akan menemukan angka luasan kebun kopi. Namun bila ditanya lebih lanjut, dimanakah kebun-kebun itu, jawabnya sederhana “kebunnya terpencar, dan sekarang hanya tersisa di pekarangan“. Apakah ada hal yang menjadikannya seperti itu?

Luas Kebun Kopi di Kalimantan Timur (Disbun Kaltim, 2013)

Luas Kebun Kopi di Kalimantan Timur (Disbun Kaltim, 2013)

Hampir sebagian besar komoditi perkebunan yang dikembangkan dan didukung perkembangannya hanyalah jenis-jenis komoditi perkebunan yang ramah pasar. Belum ada upaya serius untuk membangun trend tersendiri terhadap komoditi perkebunan. Tentunya, tak hanya soal budidaya komoditi, namun juga teknologi pasca panen dan teknologi pemasarannya, penting menjadi sebuah lingkaran yang tepat dalam memastikan komoditi tersebut mampu bertahan.

Lihat saja komoditas sahang (merica), yang ketika telah dibangun industri pengolahan dan pengemasannya di dekat kebun, lalu kemudian “dihajar” dengan penurunan harga, dan meningkatnya harga komoditi pertanian lain, yang kemudian menjadikan pekebun beralih komoditi, karena kemudian pelayan publik sektor perkebunan gagal memberikan jaminan harga. Dan kemudian, saat ini ketika kembali menjadi trend, mulailah kembali menanam ulang sahang-sahang yang telah ditinggalkan.

Memang, dibutuhkan sebuah keberanian untuk memastikan sebuah komoditi memasuki pasarnya. Bukan semata mengikuti pameran-pameran yang tak murah harga boothnya. Namun juga penting untuk membangun trend. Ketika jenis liberica merupakan kopi yang mengidentitas, harusnya ia dapat menjadi komoditi unggulan utama di wilayanya. Pun seperti kopi kuning, yang memiliki keunikan, kopi liberica ini pun memiliki rasa yang unik, yang akan memberikan rasa yang berbeda bagi penikmatnya. Lalu, apakah masih mungkin membangitkannya lagi? Sudah pasti dapat, hanya soal kemauan untuk memastikan keberlanjutan pasar jangka panjangnya.

Leave a Reply

%d bloggers like this: