Terang Benderang

Frase ini lebih kerap muncul. Sejak beragam kasus yang berselabut kabut dimaknakan sebagai telah terang benderang. Lalu seolah semua usai.

Laku kata, yang berkelebatan dalam ragam kanal, pun hanya menjadi seliweran yang tak menuntaskan. Berdiri di barisan terdepan untuk kemudian berujar, “saialah kebenaran”, yang bisa saja hanya sekadar kebetulan.

Aroma kertas uang semerbak. Menambah semangat kata tanpa auranya. Gemerisik gesekan kertas, menjadi musik paling merdu yang menumbuhkan adrenalin kesemuan.

Unlogical thinking, sebagai metodologi berbasis ngawurologi, telah melekat erat dalam pikiran. Kurikulum yang dipersiapkan sang menteri, memang untuk membunuh nalar. Padahal jelas, ragam kutipan buku tebal menyebutkan agar otak tak hanya bekerja saat lapar.

Pemberangus kecerdasan disorakkan. Penjaga kebodohan dijunjungkan. Mematikan kesempatan zat yang mampu mengubah negeri dan dunia, dan tetap saja, yang tak berotak akan menjadi pemenang.

Bukan #TerangBenderang. Genderang perang tlah berdentumkan. Energi malam tak memberikan kekuatan. Hanya menenangkan dna mengistirahatkan amarah untuk sesaat.

Realitas penghisapan dalam pendidikan diberlanjutkan. Dengan ragam dalihnya, demi kian. Menguatkan kroni hingga tak lagi mencari ruang kebaikan. Menumpuk tangga kehancuran. Dan apa nasib mereka yang bertoga tanpa lembaran nasib selanjutnya.

Diam adalah pilihan. Menunggu detak detik berhenti pada titik yang dinanti. Enggan beranjak karena takut berada dalam kabut ketidakpastian. Hanya berceloteh ini itu, lalu larut dalam aliran yang tak lagi mengalir. Dan kemudian berujar, “Sekarang telah Terang Benderang”.

Leave a Reply

%d bloggers like this: